KETERBUKAAN, PARTISIPASI DAN DEMOKRASI SEBAGAI KUNCI KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN

11 Juli 2013 oleh erya

KETERBUKAAN, PARTISIPASI DAN DEMOKRASI SEBAGAI KUNCI KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN

 

Oleh :

Erya Afrianus

Widyaiswara Muda

 

Pengantar

            Keterbukaan, partisipasi dan demokrasi merupakan tuntunan reformasi yang semakin nyaring didengungkan dewasa ini. Kenyataan tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntunan untuk terwujudnya kehidupan masyarakat madani yang modern. Keterbukaan, selain dituntut sebagai salah satu hak azasi (hak setiap warga negara untuk mendapatkan informasi), juga merupakan salah satu premises untuk terwujudnya kepercayaan (trust) dalam hubungan interaksi sosial. Keterbukaan juga merupakan faktor penentu terwujudnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Partisipasi adalah peran serta masyarakat dalam mewujudkan visi dan misi dari pada organisasi.

            Sedangkan demokrasi merupakan wujud kepemimpinan dan sistem organisasi pemerintah yang bertumpu pada kepercayaan (saling percaya) dan partisipasi seluruh anggota/masyarakatnya.

            Kajian untuk menumbuh kembangkan "iklim" keterbukaan, partisipasi dan demokrasi, menjadi penting untuk mempercepat (akselerasi) dalam mewujudkan masyarakat madani yang modern.

            Pribadi-pribadi yang memiliki sifat-sifat terbuka, partisipasif dan demokratis, merupakan komponen utama dari masyarakat madani yang modern. Karenanya, kajian terhadap ketiga karakter tersebut sangat relevan dengan tuntunan zaman pada umumnya dan tuntunan reformasi pada khususnya.

            Keterbukaan, partisipasi dan demokrasi dianggap kunci keberhasilan kepemimpinan masyarakat madani di era globalisasi. Keterbukaan dalam komunikasi artinya setiap individu berbicara bebas dan jujur dalam berbagai isu serta berlangsung terus menerus secara bebas memberikan respon terhadap pendapat orang lain. Yang pertama dikenal sebagai keterbukaan partisipasif (participative openess) dan yang kedua disebut keterbukaan reflektif (reflective openess ) keterbukaan dan visi bersama akan menghindarkan suatu organisasi dari game playing yang tidak dikehendaki seperti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tidak cocok di era globalisasi.

            Partisipasi merupakan salah satu faktor penentuan dari keberhasilan suatu organisasi, baik organisasi bisnis maupun birokrasi (instansi). Para praktisi terdahulu meyakinkan bahwa orang berpartisipasi karena mengimplementasikan kepemimpinan atas dasar keyakinannya bahwa partisipasi yang kohesif bukan hanya akibat (self interest) antara lain menginginkan kekuasaan dan kesejahteraan. Di era globalisasi dewasa ini, para pemimpin atas dasar keyakinannya bahwa partisipasi yang kohesif bukan hanya akibat self interest tetapi yang utama karena memiliki visi bersama (shared vision). Karenanya keterampilan seorang pemimpin membangun visi bersama (shared vision) menjadi penting!

            Gaya Kepepimpinan yang memanfaatakan visi bersama adalah kepemimpinan demokrasi. Berbeda dengan gaya kepemimpinan lainnya (autokrasi) kepemimpinan demokrasi memperoleh kekuasaannya atas dasar prinsip, yang mencakup antara lain: persuasi, kesabaran, kelembutan, kesediaan untuk belajar, kepekaan keterbukaan, mengakui keterbukaan, mengakui kekeliruan, konsistensi dan integritas dengan jujur. Karena, kepemimpinan demikian diikuti dengan rasa hormat dari para pengikutnya dan pada gilirannya mewujudkan pengaruh proaktif yang berkelanjutan.

            Kajian tentang keterbukaan, partisipasi dan Demokrasi mencakup tiga sub pokok Bahasan, yaitu : (1). keterbukaan; (2). partisipasi, dan (3). Demokrasi.

A. Keterbukaan

            Cara berpikir sistematik (system thinking) merupakan konsekuensi rasional dan tepat dalam menghadapi persoalan yang kompleks, dalam persoalan yang kompleks, seperti halnya persoalan kehidupan, kepemimpinan dan sosialekonomi, tidak terdapat satu jawaban yang tepat dan tidak ada seorangpun (pimpinan) yang mengetahui dengan pasti jawaban (solution) untuk setiap persoalan yang dihadapi. Karenanya, Keterbukaan (openness) dalam hubungan antar individu, merupakan kunci keberhasilan untuk menemukan solusi yang tepat (karena disepakati bersama).

            Kajian terhadap interaksi dan organisasi (instansi) yang didasarkan pada keterbukaan serta berbagai konsekuensinya, akan bermanfaat dalam membangun dan mengembangkan kepemimpinan yang berusaha membangun dan mewujudkan visi bersama (shared vision) serta mewujudkannya secara demokratis.

            Keterbukaan bermakna lebih dari pada sekedar kualitas pribadi (personal quality), tetapi merupakan dimensi dari interaksi sosial, hubungan antar individu dalam kelompok atau organisasi. Karenanya, keterbukaan (openness) merupakan kualitas hubungan antar individu (a character of relationships).

            Semangat keterbukaan (the spirit of openness) merupakan modal untuk dapat membangun visi bersama (shared vision) di dalam kelompok atau organisasinya. Tetapi sering "hilang", karena perasaan "saya tahu", "pimpinan lebih mengetahui", dan seterusnya. Perasaan/anggapan "saya tahu",... demikian itu, pada gilirannya akan menghapuskan rasa ingin mengetahui dan keinginan menguji kebenaran dari pendapat atau solusi yang diketengahkan. Padahal, kebenaran suatu pendapat atau solusi terhadap persoalan kepemimpinan (sosial, ekonomi, organisasi dan lain-lain). Selalu bersifat relatif dan dapat diperbaiki terus-menerus.

            Betapapun kemampuan seseorang dan betapapun rasionalnya, selalu pada akhirnya dirasakan belum memadai. Bahkan Einstein, dalam menghadapi persoalan yang kompleks dan multi dimensional mengemukakan bahkan; "the most beautiful thing we can experience is the mystery. It is the source of all true art and science".

            Kajian terhadap semangat keterbukaan dapat dikembangkan melalui dialogue yang efektif menuju tukar menukar pendapat dan saling rela mendengar, memahami dan menerima pemikiran orang lain dalam kelompok. Bila keterbukaan telah terwujud dalam kelompok kecil, maka pengalaman dalam kelompok tersebut akan merupakan landasan bagi terbangunnya organisasi pembelajaran (learning organization) yang memiliki visi dan misi bersama (shared vision and shared mission) yang terus menerus dikembangkan.

 

B. Partisipasi

            Manajemen partisipatif dewasa ini telah menjadi kebutuhan dari para manajer dan pemimpin di era globalisasi. Maknanya adalah bahwa berbagai solusi dari persoalan-persoalan manajemen dan kepemimpinan terletak pada pemikiran bersama (shared views). Kajian terhadap aspek partisipasi di alam terbuka mempunyai makna tersendiri dalam mengembangkan manajemen partisi pasif yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pengembangan kepemimpinan yang demokratis.

            Partisipasi merupakan tahapan yang dicapai dalam komunikasi yang bebas dan terbuka (genuine communication and dialogue), di mana semua orang merasa bebas mengemukakan pendapatnya dan bebas pula memberikan pendapat terhadap pendapat atau pemikiran orang lain. Pada tahap demikian, manajemen partisipatif (partisipative management) dapat terwujud yang membuka peluang lebih banyak orang ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan dari organisasi atau instansi bersangkutan.

            Dalam komunikasi yang bersifat terbuka, dapat terjadi pergeseran/pengembangan keterampilan dalam pemahaman (inquiry), refleksi (reflection) dan interaksi verbal (dialogue). Semakin intensif proses komunikasi berlangsung, semakin meningkat kedalaman dan keterbukaan dari fihakfihak yang berkomunikasi tersebut.

            Pada gilirannya, visi bersama (shared vision) akan terbangun dengan tingkat partisipasi yang tinggi untuk mewujudkannya secara bersama-sama. Visi dan misi dari suatu organisasi (instansi) tidak akan dapat diwujudkan tanpa partisipasi aktif dan efektif dari semua anggota/karyawannya. Karenanya, partisipasi tersebut mutlak ditumbuhkembangkan melalui komunikasi yang terbuka (genunie communication and dialogues).

C. Demokrasi

            Demokrasi berasal dari kata Yunani, yaitu demos (rakyat) dan Kratos (pemerintahan). Maknanya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat. Dewasa ini, Indonesia merupakan salah satu Negara yang menganut sistem demokrasi terbesar ke-3 di Dunia, setelah USA dan India. Hakekatnya demikian itu, terdapat pasal pertama UUD 1945 yang menyatakan bahwa : "Kedaulatan adalah di tangan Rakyat ; Kedaulatan Rakyat dilakukan sepenuhnya oleh MPR, sebagai penjelmaan seluruh Rakyat Indonesia".

            Walaupun dalam UUD 1945 sudah jelas bahwa RI adalah negara demokrasi, tetapi penyelenggaraan demokrasi tersebut di Indonesia dirasakan belum sepenuhnya memuaskan. Karenanya, masih harus terus-menerus disempurnakan melalui pengembangan kepemimpinan yang demokratis. Kepemimpinan (leadership) pada hakekatnya adalah sikap pikiran dan kejiwaan (state of mind and state of spirit) yang merasa terpanggil untuk memimpin dengan segala macam ucapan, perbuatan dan perilaku hidup, untuk mendorong dan mengantarkan yang dipimpinnya ke arah tujuan bersama.

            Sejalan dengan perkembangan masyarakat yang semakin egaliter, "berdiri sama tinggi duduk sama rendah", dewasa ini tipe kepemimpinan yang tepat adalah tipe kepemimpinan yang demokratis. Pemimpin yang demokratis, memperolehkekuasaannya atas dasar rasa hormat, bersedia berbeda pendapat dan menghargai adanya perbedaan pendapat tersebut yang justru menjadikannya sebagai pemicu untuk kemajuan.

            Fakta menunjukkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat sejalan dengan perkembangan kehidupan yang demokratis, Karenanya pemimpin yang demokratis, berjiwa demokrat (bukan otoriter) yang mampu merumuskan visi dan misi bersama (shared vision and mission) serta mampu mewujudkannya dengan meyakinkan yang dipimpinnya akan kebenaran arah yang ditempuh bersama itu.

            Kajian kepemimpinan demokratis, ditujukan bukan hanya untuk menumbuh kembangkan tipe kepemimpinan tersebut, tetapi diarahkan agar pemimpin yang demokratis tersebut memiliki tiga ciri sebagai berikut : (1). Memiliki idealisme, yang berarti memiliki kejelasan kearah mana akan membawa yang dipimpinnya; (2). Memiliki pengetahuan yang terus menerus dikembangkannya, yang berarti mampu memimpin dengan efektif mencapai tujuan bersama secara profesional, dan (3). Menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi yang dipimpinnya.

 

Penutup

            Cara berpikir sistem (system thinking) dan keterbukaan (openness) merupakan alat (instrument) yang vital dalam suatu organisai dan institusi, untuk dapat terhindar dari praktek-praktek KKN. Dengan keterbukaan, dapat dibangun visi dan misi bersama sehingga kekompakan (cohesiveness) dari organsasi tersebut tidak semata-mata karena kepentingan-kepentingan pribadi (selfinterest).

            Ciri masyarakat masa depan adalah semakin terbuka dan semakin menjunjung tinggi kebebasan, karena kedua hal tersebut erat kaitannya dengan kebutuhan untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas setiap anggota masyarakat. Karenanya, diperlukan kepemimpinan yang demokratis, punya wawasan ke masa depan, memiliki apresiasi terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta memiliki kearifan dalam setiap mengambil keputusan.