NILAI-NILAI KEJUANGAN DAN KEPEMIMPINAN DALAM LINTAS BUDAYA

12 Juni 2013 oleh erya

NILAI-NILAI KEJUANGAN DAN KEPEMIMPINAN DALAM LINTAS BUDAYA

 

Oleh :

Erya Afrianus

Widyaiswara Muda

 

Pengantar

            Kehidupan manusia, demikian juga kepemimpinan, diatur oleh prinsip-prinsip yang berlaku secara alamiah dan bersifat universal. Apabila selaras dengan prinsip maka akan meraih konsekuensi positif (sukses). Sebaliknya, apabila bertentangan dengan prinsip maka akan membawa konsekuensi negatif dan akhirnya kegagalan yang diperoleh. Setiap orang bebas menentukan pilihan yang dikehendakinya, tetapi bersamaan dengan itu, orang tersebut memilih konsekuensi yang menyertainya. "We control our actions, but the consequences that flow these actions are controled by principles". (Stephen Covey, 1996).

Dalam kehidupan/kepemimpinan, prinsip-prinsip tersebut analoginya dengan kompas bagi seseorang yang sedang menempuh perjalanan. Walaupun demikian, orang yang berjalan tidak hanya memerlukan kompas, tetapi juga memerlukan sebuah peta untuk sampai pada yang dituju dengan tepat. Dan yang dimaksud dengan peta dalam kehidupan atau kepemimpinan adalah norma-norma sosial, baik berasal dari agama maupun kebudayaan masyarakat bersangkutan. Nilai-nilai sosial yang dianut seseorang atau pemimpin, pada dasarnya bersifat pribadi, emosional dan subyektif, karenanya bisa diperdebatkan.

            Sebagian orang menganut teori deterministik, yang menganggap bahwa yang menentukan adalah faktor-faktor genetik, psikis dan lingkungan. Sedangkan sebagian lainnya menganggap bahwa ketiga faktor tersebut hanyalah sebagai reference, yang menentukan adalah pribadinya. Kedua kelompok tersebut terefleksikan pada nilai-nilai juang dan kepemimpinan pada berbagai lintas budaya. Penduduk dunia semakin maju sejalan dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesemuanya membawa peningkatan di bidang ekonomi dan kesejahteraan dari penduduk dunia.

            Teknologi informasi dan komunikasi telah membuat dunia semakin menyatu dan terasa semakin pendek jarak antar negara. Penduduk dari satu negara dengan negara lainnya semakin membaur dan semakin multi etnis serta semakin multi budayanya penduduk dari suatu negara. Karenanya, kajian nilai juang dan kepemimpinan dan sesuai pula dengan peningkatan kosmopolitansi di era globalisasi ini.

            Perangkat nilai-nilai yang dijadikan norma sosial dari setiap budaya masyarakat berbeda satu dengan lainnya, tetapi dapat dipelajari dan ditemukan prinsip-prinsip yang berlaku pada setiap budaya tersebut misalnya, produksi itu tergantung dari kemampuan produksi (Production depends on production capability). Apabila ingin panen maka harus mau menanam, dan apabila ingin meningkatkan produksi, maka kemampuan produksinya yang harus ditingkatkan.

            Kajian nilai juang dan kepemimpinan diharapkan akan menumbuhkan kepemimpinan yang bernilai juang, yang berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan, menggunakan bakat orang-orang secara lebih baik untuk meningkatkan efisiensi, serta kepemimpinan yang membuat lompatan-lompatan besar dalam efektifitas pribadi dan organisasi (institusinya). Adapun Indikator Hasil Belajar dari pembelajaran ini adalah : peserta mampu menerapkan perilaku kepemimpinan yang sesuai dengan perkembangan lingkungan dan mempunyai nilai-nilai kejuangan Kajian tentang nilai-nilai kepemimpinan dan kejuangan dalam Lintas Budaya, mencakup dua sub Pokok Bahasan, yaitu : Nilai-Nilai Kejuangan dan Kepemimpinan Lintas Budaya.

A. Nilai-Nilai Kejuangan Dalam Lintas Budaya

            Nilai-Nilai kemanusiaan yang sama antar lintas budaya dapat diidentifikasi, demikian pula nilai-nilai kepemimpinannya. Bagi Indonesia di jaman sebelum kemerdekaan, nilai-nilai keadilan sosial, kesadaran akan harga diri, cinta damai, kebangsaan dan kemerdekaan, telah terbukti merupakan energi dan semangat yang dapat mengatasi rasa takut dan rasa cemas menghadapi hari depan, berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah.

            Apabila nilai-nilai kemanusiaan Angkatan 28 dan angkatan 45 dari persatuan menuju kemerdekaan maka nilai-nilai juang angkatan berikutnya adalah menghubungkan antara kemerdekaan dengan pembangunan. Logikanya, energi dan semangat yang dimiliki angkatan dewasa ini harus mampu mengisi kemerdekaan dengan mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata bagi seluruh rakyat.

            Di era kemerdekaan ini, khususnya di jaman reformasi, angkatan "pengisi kemerdekaan", para pemimpinnya telah menetapkan visi yang harus diwujudkan yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (GBHN, 1999-2004).

            Di dalam mewujudkan visi nasional seperti dikemukakan itu, para pemimpin Indonesia tetap harus berpegang pada prinsipprinsip yang mengatur perilaku manusia dan hubungan antar manusia. Para pemimpin Indonesia dewasa ini berhubungan dengan keadilan, kebaikan, efisien, dan efektivitas. Mereka berhadapan dengan manusia Indonesia seutuhnya.

            Manusia Indonesia bukan sekedar aset, bukan hanya makhluk ekonomi, sosial, dan psikologi. Manusia Indonesia adalah juga makhluk spritual, mereka menghendaki makna, perasaan melakukan yang berarti. Harus ada tujuan yang berarti, yang mengangkat mereka, memuliakan mereka, dan membawa mereka ke keberadaannya yang tinggi. Prinsip-prinsip itu adalah hukum-hukum alam dan nilai-nilai sosial yang berlaku yang telah menjadi ciri setiap masyarakat besar, setiap peradaban yang bertanggung jawab selama berabad-abad.

            Prinsip-prinsip tersebut mengemuka dalam bentuk nilai-nilai, ide-ide, cita-cita, norma-norma, dan ajaranajaran yang meninggikan, memuliakan, memenuhi, memberdayakan, dan memberi inspirasi. Beberapa prinsip yang dapat dipedomani, antara lain :

1.    Manusia memiliki energi, akal budi, dan inisiatif yang lebih besar dari pada yang diberikan atau yang diminta oleh pekerjaan mereka sekarang;

2.    Manusia menggunakan kreativitas mereka untuk tujuan dan cita-citanya;

3.    Manusia ingin menyumbang untuk tujuan yang berharga (suatu misi dan usaha yang memberikan makna, memuliakan mereka, memberi inspirasi pada mereka, memberdayakan mereka, serta mendorong mereka untuk menjadi lebih baik).

Dalam mengimplementasikan kepemimpinan berprinsip seperti dikemukakan di atas, beberapa paradigma yang tetap dapat dipilih, antara lain sebagai berikut:

1.    Paradigma manajemen ilmiah : Bayarlah dengan baik;

2.    Paradigma hubungan antar manusia : Perlakukan dengan baik;

3.    Paradigma Sumber Daya Manusia: Manfaatkanlah saya;

4.    Paradigma Kepemimpinan : Mari bicara tentang visi dan misi, peranan, dan tujuan. Saya mau memberikan sumbangan yang berarti.

Kajian nilai juang dan kepemimpinan di alam terbuka, diharapkan akan menumbuhkan kepemimpinan yang bernilai juang yang berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan, menggunakan bakat orang-orang secara lebih baik untuk meningkatkan efisiensi, serta kepemimpinan yang membuat lompatan-lompatan besar dalam efektivitas pribadi dan organisasi (institusinya).

 

B. Nilai-Nilai Kepemimpinan dalam Lintas Budaya

            Nilai-nilai kepemimpinan bervariasi antar bangsa dan bahkan antar suku Bangsa. Kenyataan demikian ini adalah wajar, karena kepemimpinan dari suatu bangsa atau suku bangsa, pada dasarnya mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku pada masyarakat bangsa atau bangsa bersangkutan.

            Dewasa ini, sedang berkembang modernisasi pada berbagai kehidupan di berbagai bangsa, suku bangsa dan lintas budaya pada umumnya. Perkembangan demikian di era globalisasi ini, menuntut kepemimpinan yang lebih efektif dan lebih efisien, lebih demokratis, lebih terbuka, lebih rasional, lebih luwes dan lebih terdesentralisasi.

            Era globalisasi merupakan kondisi kehidupan manusia yang tak dapat ditawar-tawar, tetapi perlu dijalani dengan antisipasi yang tepat. Ciri globalisasi tersebut adalah kecepatan informasi yang sangat tinggi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi yang sangat pesat, yang menimbulkan persaingan yang sangat cepat. Persaingan yang sangat ketat dan cepatnya arus informasi ini, mendorong negara-negara dan para pemimpinnya mencari cara-cara yang efektif dan efisien untuk mengatasi tantangan tersebut agar tetap survive dalam persaingan global.

            Untuk mengatasi tantangan global tersebut, diperlukan pemimpin-pemimpin yang profesional yang meninggalkan cara-cara kerja feodalisme, ketat peraturan, menyenangi ketertutupan, mempersulit pelayanan, penuh curiga, main hakim sendiri dan lain-lain. Kepemimpinan yang diperlukan adalah yang terbuka, memperhatikan hak-hak azasi manusia, menghormati hukum, tidak cepat puas dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

            Di bidang pembangunan, diperlukan manajemen modern dengan kepemimpinan yang selaras. Robert M. Muller (1989), mengemukakan perlunya para pemimpin pemerintah yang modern untuk mengimbangi modernisasi di era globalisasi.

Para pemimpin pemerintah yang modern, sekurang-kurangnya dicirikan oleh tujuh karakteristik, sebagai berikut:

1.    Berorientasi kepada manusia (memperlakukan manusia seutuhnya);

2.    Memperhatikan proses pelaksanaan (perpaduan kemam puan teknis dan manajerial);

3.    Memiliki semangat bersaing;

4.    Memiliki perspektif ke luar;

5.    Berorientasi dengan pendekatan sistem (system thinking);

6.    Bekerja dengan pragmatis, fleksibel dan mampu menghadapi kemajemukan;

7.    Berorientasi ke masa depan (shared vision and mision).

Bagi Indonesia, di era reformasi ini, diperlukan reorientasi kepemimpinan dan organisasi, yang secara signifikan berbeda dengan era sebelumnya, era orde baru (Triguno, 1996).

Reformasi organisasi dan kepemimpinan yang dikemukakan tersebut, adalah sebagai berikut :

U N S U R

 

ORGANISASI DAN

KEPEMIMPINAN

ORDE BARU

 

ORGANISASI DAN

KEPEMIMPINAN

MASA ERA

REFORMASI

Struktur

 

Hierarki yg kaku,

mempertahankan

Status Quo

 

Datar (flat), flekisbel,

kurang hirarki

Persepsi Pekerja

 

Atasan adalah "Boss"

atau "Polisi"

 

Atasan adalah pem

bimbing & fasilitator/

pelatih

Karakteristik Hubung

an Atasan Bawahan

 

-    Ketergantungan

-    Ketakutan

-    Kontrol yang kuat

-    Kebebasan terkendali.

-    Kepercayaan/Keterbukaan

-    Saling Committed

-    Kepemimpinan Team

Fokus Usaha Pegawai

 

-    Kerja keras untuk kepentingan pribadi

-    Persaingan antar pegawai

-    Kerja keras untuk kepentingan team

-    Semangat pegawai adalah semangat team

Basis Keputusan

Naluri dan Perasaan

Fakta dan Kesisteman

 

Penutup

            Nilai-nilai kemanusiaan lintas budaya, merupakan sumber yang dapat digunakan. Untuk menggali nilai-nilai juang kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut, merupakan energi dan semangat yang sangat ampuh untuk mewujudkan visi dan misi bersama.

            Di dalam implementasinya, energi dari nilai-nilai kejuangan tersebut, secara optimal diarahkan sesuai dengan prinsipprinsip yang berlaku secara universal.

Prinsip-prinsip tersebut, antara lain :

1.    Manusia memiliki energi, akal budi, dan inisiatif;

2.    Manusia menggunakan kreativitas mereka untuk tujuan dan cita-cita;

3.    Manusia ingin menyumbang untuk tujuan yang berharga.

            Setiap masa, umat manusia mengalami tantangan, baik yang bersifat lokal, nasional maupun yang bersifat global. Untuk itu, manusia dituntut agar mampu mengidentifikasi nilai-nilai yang berubah dan kemudian mengembangkan kepemimpinan yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi tersebut.

            Nilai-nilai kepemimpinan yang diperlukan di era reformasi dan globalisasi dewasa ini, Indonesia memerlukan tipe kepemimpinan yang selaras dengan lintas budaya serta berlandaskan prinsip-prinsip yang memiliki kebenaran alamiah dan universal. Nilai-nilai kepemimpinan tersebut, antara lain lebih demokratis, sesuai dengan hak-hak azasi manusia, menghormati hukum dan lebih terdesentralisasi.