• Visi   Pusdiklat BPS RI menuju pelayanan diklat yang prima dalam penyelenggaraan diklat statistik dan komputasi, kepemimpinan dan manajemen, serta diklat teknis lainnya
  • Misi   Mengembangkan dan menyempurnakan sistem, kurikulum, silabi, modul pembelajaran yang berbasis kompetensi sesuai standar statistik internasional
  • Misi   Meningkatkan kualitas SDM melalui penyelenggaraan dan pengembangan program pendidikan dan pelatihan statistik dan komputasi
  • Misi   Meningkatkan kualitas tenaga pengajar serta pengelola pendidikan dan pelatihan serta tenaga kediklatan lainnya dalam rangka meningkatkan kinerja statistik
  • Misi   Menyempurnakan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan statistik dan komputasi yang memadai

MENGENALI DIRI SENDIRI, ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN FISIK SOSIAL DALAM PENYELENGGARAAN KEPEMIMPINAN

15 Mei 2013 oleh erya

 

MENGENALI DIRI SENDIRI, ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN FISIK DAN SOSIAL DALAM PENYELENGGARAAN KEPEMIMPINAN

 

Oleh :

Erya Afrianus

Widyaiswara Muda

 

Pengantar

            Peran dan fungsi kepemimpinan sangat strategis dalam pembangunan, baik masa kini maupun di masa mendatang. Karenanya, pengembangan gaya kepemimpinan sesuai dengan tuntutan jaman, mutlak diperlukan.

            Gaya kepemimpinan yang lebih demokratis, berdasarkan prinsip dan berorientasi pada pelayanan akan sesuai dengan tuntutan modernisasi di era globalisasi. Mengenali semangat pribadi, lebih-lebih bagi seorang pemimpin, diperlukan untuk dapat melakukan usaha-usaha meningkatkannya. Memelihara dan meningkatkan terus menerus semangat kerja mutlak diperlukan, karena kehilangan semangat berakibat sangat fatal.

            Mengenai ciri-ciri pribadi yang berkernbang diperlukan untuk peningkatan lebih lanjut hingga seseorang memiliki kematangan yang tinggi, bukan saja mampu mandiri, tetapi mampu mewujudkan sinergi dalam berinteraksi dengan orang lain pada tingkat saling ketergantungan

            Mengenali diri sendiri, mencakup pemahaman tentang potensi yang dimiliki dan mengetahui cara-cara pemanfaatannya serta caracara pengembangannya yang sesuai. Pengetahuan, pemahaman dan keterampilan demikian, sangat relevan untuk mewujudkan keberhasilan, baik secara individu maupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

            Mengenali orang lain, merupakan hal yang strategis untuk dengan cepat diterima anggota kelompok yang dikehendaki seseorang. Untuk meningkatkan diri, tidak cukup hanya mengenal orang lain, tetapi memerlukan usaha-usaha lainnya,yang mencakup : pemahaman tentang sikap dan perilakunya,berkomunikasi dengan empati dan menyesuaikan diri dengan mengendalikan diri, toleransi, sabar, pengerti an, saling menghargai dan menghormati serta kesediaan berkorban.

            Lingkungan merupakan salah satu faktor yang ikut membentuk kepribadian seseorang. Teori Konvergensi (William Stern) menyatakan bahwa kepribadian seseorang terbentuk dari hasil perpaduan antara dasar dan ajar, atau antara pembawaan dengan lingkungan. Lingkungan mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara individu maupun dalam kehidupan organisasi. Dalam kehidupan organisasi dan manajemen, dikenal lingkungan strategis yang meliputi lingkungan sosial, ekonomi, budaya, politik dan hukum.

            Mengenali lingkungan, merupakan hal yang sangat pentingbagi kehidupan manusia, lebih-lebih bagi seorang pemimpin. Dengan mengenali lingkungannya, manusia dapat lebih berkualitas dan bermakna dimuka bumi, antara lain:

1.    Meningkat kesadarannya bahwa dirinya merupakan bagian dari ekosistem;

2.    Terdapat hubungan timbal balik antara kehidupan makhluk hidup lainnya maupun dengan lingkungannya;

3.    Berkembang akal budi dan perasaannya sehingga menjadi orang yang cerdas, cepat tanggap rendah hati, sabar,bersyukur dan bertaqwa;

4.    Meningkat kemampuannya, bukan saja untuk menghadapi berbagai tantangan lingkungan, tetapi menjadi manusia seutuhnya, manusia yang berkualitas yang keberadaannya diharapkan/dibutuhkan untuk keselamatan bersama.

 

MENGENALI DIRI SENDIRI

            Terdapat empat potensi manusiawi yang perlu dipelihara dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya, yaitu: potensi fisik badaniah, potensi mental intelektual, potensi mental spiritual, dan potensi sosial emosional. Untuk memanfaatkan, memelihara dan meningkatkan kinerjanya, perlu mengenalinya secara lebih mendalam potensi diri.Meningkatkan dan mengembangkan potensi diri, satu-satunya jalanyang tercepat adalah melalui proses pembelajaran (learning).

            Untuk pembelajaran yang efektif, maka pemahaman tentang gaya belajar seseorang menjadi penting untuk kemudian gaya belajar yang paling sesuai untuk dilaksanakan sehingga benar-benar mencapai efektivitas yang maksimal. Melalui proses pembelajaran, maka gaya-gaya kepemimpinan, ciri-ciri pribadi yang berkembang serta semangat untuk maju dapat ditingkatkan terus. Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu mengidentifikasi kekurangan diri sendiri untuk perbaikandiri.

Adapun kajian tentang cara-cara mengenali diri difokuskan padaempat sub pokok bahasan yaitu:

1. Gaya Belajar;

2. Gaya Kepemimpinan;

3. Semangat untuk Maju;

4. Pribadi yang berkembang.

 

A. Gaya Belajar

            Pembelajar difahami sebagai proses terjadinya perubahan perilaku. Karena pentingnya, maka pembelajar ini dianggap suatu proses fundamental yang mendasari perubahan perilaku. Pembelajar didefinisikan sebagai proses di mana terjadi perubahan perilaku yang relatif abadi dalam perilaku sebagaisuatu hasil dari praktek. (Gibson Cs., 1985). Yang dimaksud dengan relatif abadi adalah bahwa perubahan tersebut sedikit lebih permanen. Sebagai hasil praktek dimaksudkan mencakup pelatihan formal maupun pengalaman yang tak terkendali.

Terdapat tiga tipe pembelajaran yang saling terkait, yaitu:

1. Tipe pembelajaran atas dasar konsep perangsang;

2. Tipe pembelajaran atas dasar konsep stimulus; dan

3. Tipe pembelajaran atas dasar konsep penguat(reinforcer).

            Dalam mengantisipasi tipe-tipe pembelajaran tersebut, setiap individu menghadapinya dengan memanfaatkan gaya belajarnya masing-masing.

Secara garis besar, gaya belajar tersebut dapat dibagikedalam empat kategori, yaitu :

1. Belajar dari pengalaman nyata, (concrete experience);

2. Belajar dari observasi reflektif (reflective observation):

3. Belajar melalui percobaan (active experimentation);

4. Belajar dengan konsepsualisasi abstrak (abstractconceptualization).

            Setiap indvidu memiliki gaya belajar kombinasi dari keempatnya. Walaupun demikian, dapat diidentifikasi mana-mana yang paling dominan. Dengan diketahuinya gaya belajar yang paling dominan. artinya paling sesuai dan tercepat memperoleh pemahaman, kemudian disusun strategi belajar bagi individu yang bersangkutan. Dengan strategi tersebut maka pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien.

 

B. Gaya Kepemimpinan

            Mengenal gaya kepemimpinan seseorang diperlukan untuk penyesuaian dengan tipe kepemimpinan yang diperlukan dimasa depan. Di era globalisasi kini dan masa depan, dituntut kepemimpinan modern yang lebih demokratis, lebih terbuka,lebih rasional, lebih luwes dan lebih terdesentralisasi yangmemungkinkan terwujudnya manajemen modern yang efektifdan efisien.

            Gaya kepemimpinan seseorang berbeda dengan lainnya selaras dengan paradigmanya masing-masing. Seseorang mungkin lebih demokratis sedangkan lainnya lebih autokratis atau mungkin gaya misionaris. Apapun gaya kepemimpinan seseorang kini, di masa depan dituntut gaya kepemimpinan yang berprinsip (Stephen Covey,1969) yang melayani (Senge,1990). Stephen Covey, 1969, mengemukakan delapan ciripemimpin yang berprinsip.

Kedelapan ciri pemimpin tersebut, mencakup :

1. Terus menerus belajar dari pengalamannya;

2. Berorientasi pada pelayanan;

3. Memancarkan energi positif;

4. Mempercayai orang lain;

5. Hidup seimbang;

6. Melihat hidup sebagai petualangan;

7. Sinergistik, dan

8. Berlatih terus untuk memperbaharui diri.

            Senge (1990) mengemukakan tiga peran pemimpin organisasi pembelajar dimasa depan, yaitu : (1). Sebagai perencana/perancang; (2). Sebagai guru/pelatih, dan (3). Sebagai pelayan.

 

C. Semangat Untuk Maju

            Seseorang yang kehilangan semangat berarti kehilangan segala-galanya. Karenanya, mengenali semangat pribadi diperlukan untuk dapat meninggalkannya secara terus menerus (berkelanjutan). Semangat pribadi erat kaitannya dengan karakter yangt ercermin pada kepribadian dan perilakunya. Dasar utamanya, setiap orang ingin bermakna dalam hidupnya. Artinya,bermakna bagi dirinya, bagi keluarga, masyarakat dan bangsanya.

            Faktor-faktor internal yang erat kaitannya dengan semangat seseorang (Drs. Waidi, MBS, 2000), antara lain mencakup:(1). pola pikir; (2). Keyakinan; (3). Budaya; (4). Kepentingan;(5). Keterlibatan; (6). Kinerja; (7). Gaya Hidup, dan (8).Tujuan yang ingin dicapainya.

Semangat kerja dari seseorang dapat ditingkatkan dengan mempengaruhi faktor-faktor penentunya, hingga kemampuan berpikir konsepsionalnya meningkat.

Dengan kemampuan berpikir konsepsional tersebut, makaakan membangun pribadi yang memiliki:

1. Kesadaran terhadap energi yang dimiliki;

2. Semangat dalam melaksanakan tugas;

3. Kemauan dalam kerja sama;

4. Komitmen terhadap sistem dan prosedur;

5. Mampu bekerja jujur, dan

6. Memiliki wawasan ke masa depan.

 

D. Pribadi Yang Berkembang

            Apabila potensi fisik dan mental-intelektual seseorang mencapai puncak pada umur tertentu (misalnya IQ pada umur 19 tahun), maka potensi Mental-spiritual dan sosial-emosional senantiasa berkembang atau dapat dikembangkan. Karenanya, semakin berumur (sebelum pikun), seseorang biasa semakin meningkat pribadinya (semakin arif dan lain-lain).

            Tipe kepribadian seseorang berbeda dengan orang lain adalah merupakan hal yang wajar. Berkaitan dengan stress, DR.Peter Tyrer, membagi kepribadian menjadi tujuh tipe kepribadian. Tipe A: ambisius; Tipe B: Tenang; Tipe C: Cemas;Tipe D: Tidak ambil peduli; Tipe E: Pencuriga; Tipe F:Dependen, dan Tipe G: Formal.

            Bagi seorang pemimpin, terdapat enam ciri kepribadian yang berkembang, yaitu : (1). Sikap Mental Positif; (2). Bertanggung Jawab; (3). Obyektif; (4). Kendali Diri; (5). Ketegasan, dan (6) Tenggang Rasa.

 

MENGENALI ORANG LAIN

            Mengenali orang lain merupakan keharusan bagi seseorang untuk bisa "masuk ", diterima dan berkomunikasi dengan mereka. Individu yang populer adalah yang disenangi, yang mudah masuk dan diterima oleh orang dari berbagai stratadan kelompok-kelompok lainnya. Predikat yang dimilikinya sebagai : orang yang menyenangkan, orang yang luwes, pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan.

            Untuk menjadi orang yang diterima orang lain, orang yang populer, diperlukan usaha-usaha tertentu, usaha mencuri hatiorang lain tersebut. Usaha-usaha demikian akan semakin lebih mudah bila didukung oleh lebih dahulu kenal dengan siapa berinteraksi. Sesuai dengan pepatah " Tak kenal makatak sayang ", maka mengenal orang lain bukan saja agar disayang dan dibutuhkan oleh orang lain tersebut, tetapi merupakan kebutuhan sosial dan afiliasi serta memenuhi kebutuhan untuk dihargai (sesuai dengan teori Hierarchi Kebutuhan Sosial).

Untuk memperoleh respon positif, mengenal orang lain saja dianggap belum cukup, tetapi masih diperlukan berbagai usaha penyesuaian diri, yang mencakup :

1.    Pemahaman tentang orang lain : kelebihan dan kekurangannya, perangai, kecerdasan, emosi, sikap mental dan pola pikirnya;

2.    Berkomunikasi dengan cara empati (mendudukkan diripada posisi orang lain);

3.    Menata dan menyesuaikan diri atas dasar saling menguntungkan.

            Langkah-langkah penyesuaian diri dimuka, hanya berhasil apabila dibarengi kemampuan-kemampuan mengendalikandiri, toleransi, sabar, pengertian, saling menghargai dan menghormati serta kesediaan berkorban.

 

MENGENALI LINGKUNGAN FISIKDAN SOSIAL

            Lingkungan pada dasarnya dapat dibagi ke dalam duakategori, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Kedalam kategori lingkungan fisik, dikenalkan oleh ErnestHaeckel, 1869, ekologi (Oikos = rumah atau alam semesta; Logos - ilmu ). Charles H. Southwide mendefinisikan ekologi sebagai studi ilmiah tentang hubungan antar makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Ecologi is the scientific study of therelationships of living organism with each other and withtheir environments).

            Pada perkembangan lebih lanjut, hubungan seperti ekologi tersebut dipopulerkan sebagai ekosistem yang sifatnya lebih dinamis. Manusia merupakan salah satu bagian dari ekosistem ini, karena manusia sebagai salah satu makhluk yang juga mempunyai hubungan timbal balik dengan makhluk hidup lainnya dan juga dengan lingkungannya.

            Lebih rinci, lingkungan fisik yang mempengaruhi kehidupan manusia itu, meliputi : kualitas dan struktur tanah, letak geografis, hawa, iklim, cuaca, kuantitas dan kualitas gunung serta kualitas udara. Pengaruhnya terhadap manusia, nampak antara lain dari makanan utama, bentuk otot, volume suara,jenis dan model pakaian, adat istiadat, pola pikiran dan kesehatannya. Peristiwa-peristiwa alam, seperti: melelehnya lautan es, meletusnya gunung berapi, hujan dan banjir, gerhana bulan/matahari, wabah penyakit, kemarau berkepanjangan,hutan terbakar, badai, bintang jatuh, halilintar, erosi, pasangsurut air laut dan lain-lain, mempengaruhi kehidupan manusia dengan nyata. Manusia dituntut untuk berfikir, tentang apayang terjadi, mengapa bisa terjadi dan bagaimana menyikapinya agar tetap dapat bertahan hidup (survive).

            Peristiwa-peristiwa alam lainnya yang menantang manusia untuk berfikir dan berusaha menarik manfaatnya, antara lain:proses kehidupan kepompong menjadi kupu-kupu, rawa menjadi daratan, hewan kanibal yang membahayakan dengan usia pendek, daratan menjadi danau, makhluk yang lebih kuat/besar memangsa yang lebih kecil atau lemah, sampah, dan heterogenitas jenis flora dan fauna. Semua peristiwa-peristiwa alamiah, yang membahayakan, yang mempesonadan yang mengagumkan mendorong manusia untuk merenungdan berfikir kepada sang pencipta, karena memang manusia adalah makhluk yang berketuhanan.

            Sebagai bagian dari ekosistem, manusia harus mengenal lingkungan, bukan saja untuk keselamatannya tetapi juga untuk peningkatan kualitas kehidupannya. Menghadapi kesemuanya itu, manusia dituntut untuk mampumembuat prediksi-prediksi, melakukan antisipasi dan menyusun strategi-strategi guna menghadapi berbagai perubahan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.

Cara-cara penyesuaian terhadap ekosistem yang ditempuhbiasanya mencakup sebagai berikut :

1.    Alloplastis, yaitu dengan mengubah sikap dan perilakudiri sendiri agar sesuai dengan kondisi lingkungan;

2.    Geneplastis, yaitu dengan mengadakan perubahan padadiri sendiri dan pada lingkungan yang dalam kewenangandan kekuatannya;

3.    Autoplastis, yaitu mengubah lingkungan sosial sesuaidengan yang diharapkan, sepanjang hal tersebut memungkinkan.

            Sebagai makhluk yang berketuhanan, manusia yang mengenal lingkungan dapat menjadi makhluk yang pandai bersyukur, tidak takabur, sabar dan meningkat keimanan dan ketaqwaannya. Mungkin juga manusia menjadi lebih peduli dengan alam semesta dan mencintai dengan sepenuh jiwaraganya. Pada gilirannya, manusia berusaha menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem yang akan melanggengkan kehidupannya dimuka bumi.

 

Penutup

            Meningkatkan dan mengembangkan potensi diri, satu-satunya jalanyang tercepat adalah melalui proses pembelajaran (learning). Untuk pembelajaran yang efektif, maka pemahaman tentang gayabelajar seseorang menjadi penting untuk kemudian gaya belajar yang paling sesuai untuk dilaksanakan sehingga benar-benar mencapai efektivitas yang maksimal.

            Untuk menjadi orang yang diterima orang lain, orang yang populer, diperlukan usaha-usaha tertentu, usaha mencuri hati orang lain tersebut. Usaha-usaha demikian akan semakin lebih mudah bila didukung oleh lebih dahulu kenal dengan siapa berinteraksi.

            Manusia merupakan salah satu bagian dari ekosistem ini, karena manusia sebagai salah satu makhluk yang juga mempunyai hubungan timbal balik dengan makhluk hiduplainnya dan juga dengan lingkungannya. Manusia dituntut untuk berfikir, tentang apayang terjadi, mengapa bisa terjadi dan bagaimana menyikapinya agar tetap dapat bertahan hidup (survive).

            Menghadapi kesemuanya itu, manusia dituntut untuk mampu membuat prediksi-prediksi, melakukan antisipasi dan menyusun strategi-strategi guna menghadapi berbagai perubahan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.